Dan jawabannya adalah, Alloh tuhanku .

Cerita ini merupakan kisah nyata yang dialami oleh sahabat saya, Alhamdulillah dia menuangkan cerita penuh inspiratif ini melalui tulisan, dan mengizinkan saya untuk share cerita ini di blog saya🙂 Hidayah yang didapatkanya sungguh sangat berharga , dan saya pikir sangat disayangkan jika hanya segelincir orang saja yang dapat menikmatinya, begitu banyak pelajaran yang dapat dipetik dari cerita ini.

Tentang penulis :
Penulis merupakan sahabat saya , kami satu sekolah ketika SMP dulu , panggil saja dia Putri, mahasiswa PG-PAUD Universitas Negeri Jakarta .

silahkan simak ceritanya🙂

__________________________________________________________________

Sulit untukku mengakhiri dan mengakui gejolak dalam hati ini. Aku merasakan jiwa dalam raga yang bukan fitrahku. Aku merasakan betapa sulitnya aku mencari “sesuatu” itu. Dari diriku yang memang bukan terlahir dalam keadaan muslim. Dari hidup yang telah membuat banyak bertanya, banyak mengira, dan banyak menduga.

Aku berasal dari keluarga katolik yang sarat akan nilai-nilai religius. Dari kecil hingga remaja, aku dididik dalam sistem keluarga katolik. Keadaan yang harus kujalani, tanpa tahu arti kebenaran sesungguhnya. Di keluarga, aku termasuk seorang anak yang suka “membangkang”, dalam arti, aku melakukan sesuatu sesuai kehendak hatiku tak peduli siapapun yang menghalangi inginku.

Dari situlah bermula perjalanan panjang pencarian fitrahku. Fitrah dari diri ini yang tak pernah ku gapai semenjak aku dihadirkan dalam dunia yang fana. Dunia yang membuatku harus bertarung dengan hati yang mencoba berkata tentang kejujuran, dengan naluri yang tak ingin untuk dibantahkan. Saat itu aku berusia tiga belas tahun, layaknya anak yang baru mengalami masa pubertas, aku seringkali memiliki pemikiran yang mungkin pada seusiaku saat itu jarang dimiliki oleh remaja biasanya. Aku sering mempertanyakan “tuhan” ku dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana, pertanyaan yang dikemukakan seorang gadis remaja yang labil saat itu, gadis yang ingin mendapatkan kejelasan tentang esensi tuhannya. Seringkali aku mempertanyakan itu pada guru agamaku (katolik), tapi apa yang kudapat hanyalah sebuah doktrin yang harus kutelan mentah-mentah tanpa aku harus turut andil untuk menolaknya.

Gejolak itu semakin berkecamuk dalam hati, apalagi ketika kebenaran itu perlahan datang dan meyakinkanku. Aku tertegun ketika melihat seseorang sedang melaksanakan sholat kala itu, ada sesuatu yang menarik hatiku untuk mulai mencintai islam. Mencintai agama yang indah ini. Awal mula aku merasakan kesejukan dalam hati, bahkan ketika sedikit kuberikan ruang untuk islam dihatiku. Namun, ketika itu aku hanya bisa untuk sekedar merasakannya tanpa bisa berangan untuk memiliki iman islam itu. Aku bingung dan tak tahu bagaimana caranya untuk bisa memeluk islam kala itu, yang kutahu aku harus mengucapkan dua kalimat syahadat, tapi bagaimana prosesnya aku tak mengerti sama sekali, aku buta akan hal itu.

Hal itulah yang membuat aku mengurungkan niat, karena aku tak tahu siapa yang bisa membantuku dan membimbingku saat itu. Aku merasa mungkin bukan sekarang waktu yang tepat. Tanpa mengurangi tekad, aku mulai mengulur waktu untuk bisa memeluk islam, kala itu aku berusia lima belas tahun, tapi lagi-lagi niat itu harus aku kubur dalam-dalam. Aku merasa sedih, merasa menyesal mengapa tak bisa melaksanakan niat dan inginku itu.

Waktu semakin berlalu, aku beranjak tumbuh menjadi gadis yang aktif. Saat itu aku berusia enam belas tahun, awal pertama memasuki dunia SMA. Dunia yang aku anggap lebih menyenangkan dari duniaku sebelumnya. Dunia yang mungkin saja bisa merubah hidupku. Dunia yang dimana aku memiliki ekspektasi besar terhadap niat suci ini.

Permulaan yang baik kala itu, mengingatkan kembali pada niat suciku yang sempat terlupakan dan tertunda. Karena memang disinilah jalan itu kutemukan. Saat itu aku mendapat kabar bahwa ada seorang kakak kelasku yang sudah bersyahadat dan masuk islam. Aku mulai berpikir, mengapa dia bisa sedangkan aku tak bisa melakukannya.

Aku mulai merenung dan berpikir, bagaimana bisa dia melakukannya sedangkan mengapa aku tak bisa melakukannya. Mengapa ada yang membantunya untuk mengucapkan syahadat, sedangkan aku harus menunggu lama. Aku terus merenung dan memantapkan hatiku untuk bisa sampai pada fitrahku yang sesungguhnya. Yaitu fitrah islamku.

Dalam perenungan, hari demi hari kulalui hingga tiba pada suatu hari dikala malam saat aku tertidur lelap, dimana aku bermimpi tentang diriku, yaitu aku melihat diriku telah meninggal dunia dan saat itu di dalam mimpi roh diriku melihat sebuah mayat yang terbujur kaku dengan kain kafan, dikelilingi orang yang sedang membaca surat yasin, yang tak lain mayat itu adalah diriku. Lalu dengan terkejut dan ketakutan yang meliputi, aku terbangun, dengan perasaan takut dan bingung aku berpikir, mimpi apa ini. Aku berusaha untuk berpikir logis, bahwa itu hanya sekedar mimpi belaka yang tak lain hanya buah tidur dari tiap malamku, dari tiap lelapan mataku.

Tapi nampaknya aku salah telah mengabaikan mimpi itu. Selang beberapa hari berikutnya, aku mulai bermimpi kembali tentang diriku. Diriku yang hadir dalam mimpi saat itu adalah aku sedang bersiap melaksanakan sholat, sebagaimana mestinya orang islam melaksanakan sholat, dengan menggunakan mukena dan sajadah, juga menghadap kiblat. Tapi anehnya, aurat di kakiku sulit sekali untuk tertutup, berkali-kali kakiku tersingkap, dan berkali-kali pula aku harus menutupnya begitulah seterusnya hingga kemudian aku terbangun, dan kembali merasakan hal aneh yang kurasakan dalam hatiku.

Gelisah … gundah … gejolak dalam hati yang kurasakan dan merasa bahwa aku tak bisa menyimpan kejadian mimpi itu sendiri, lalu kuceritakan pada salah seorang teman sekolah yang seagama denganku saat itu. Ternyata dia merespon itu dengan baik ketika aku menceritakan semua yang kualami dan kurasakan. Lalu kala itu dia berjanji untuk membawaku pada guru agama islam di sekolah.

Waktu yang kunantikan tiba, akhirnya dengan rasa tak sabar dan bersemangat aku pun bertemu dengan guru agama islam tersebut. Beliau bertanya tentang hal apa yang terjadi pada diriku. Aku pun menceritakan semua kronologis kejadian yang terjadi padaku. Sang guru yang bijak dan rendah hati itu pun bertanya tentang asal usulku, latar belakang keluargaku, dan bertanya apa yang hendak akan kulakukan setelah aku mendapatkan petunjuk atau hidayah ini. Beliau mengatakan sesuatu yang aku tunggu selama ini, membukakan “pintu gerbang” bagi jalan itu padaku, lalu aku dengan senang menjawab “ya … saya mau masuk islam dan bersyahadat”. Kemudian sang guru yang bijak itu menyuruhku untuk meminta ijin pada orangtuaku, dan memberikan aku waktu tiga hari untuk menentukan hari penentuanku itu.

Selama waktu itu , aku berusaha untuk mengutarakan niatku kepada orangtuaku, terlebih pada ayahku, tapi yang kudapat hanyalah respon yang kurang baik untukku. Penentangan yang menjadi jawabannya kala itu. Aku bingung dan aku berusaha untuk mencari penguatan untuk memantapkan langkah baruku ini, meskipun keraguan dan godaan untuk menghentikan langkahku sempat datang padaku.

Lagi-lagi takdir berkata lain, ternyata tepat malam satu muharram, Alloh memberi petunjuk sebagai penguatan langkahku. Aku mendapatkan mimpi sebagai penguatan diriku, ketika itu aku datang ke sekolah dengan memakai pakaian putih sambil berlari-lari kecil menuju sebuah lapangan luas. Disana aku bertemu banyak orang yang memakai pakaian serba putih. Disana pula aku diajarkan bagaimana caranya berwudhu, membaca al-quran di bawah rindangnya sebuah pohon besar, dan suasana yang damai dengan semilir angin yang menyejukkan. Aku berdiri dan memperhatikan sekelilingku berkumpul membentuk suatu barisan (shaff) dimana barisan itu begitu rapih dan teratur. Aku yang berdiri di belakang perlahan berjalan maju menuju sebuah cahaya yang semakin kumendekatinya, semakin nampak besar hingga akhirnya aku berhenti tepat di depan cahaya yang sangat besar itu. Aku tak merasakan panas sama sekali dari cahaya yang amat besar itu, yang kurasakan hanyalah rasa tenang dan sejuk yang menyelimutiku. Kemudian aku terbangun.

Esok hari aku berangkat ke sekolah dengan hati yang bimbang. Bimbang karena itu merupakan hari terakhir batas waktu untuk mengambil sebuah keputusan. Detik itu mengingatkanku akan seseorang yang sangat kucintai, orang yang telah menghadirkanku ke dunia ini, orang yang mencintaiku sepenuh hatinya, ialah ibuku … kenyataan yang harus kuhadapi adalah aku akan “meninggalkannya”, demi cinta yang hakiki, Rabbku … dengan langkah yang penuh tekad, hati yang bersambut untuk iman yang baru, melalui telepon itu aku berucap maaf untuk ibuku, “ibu … aku ingin bersyahadat hari ini, maafkan aku atas segala salah yang telah aku buat hingga kini”, dan tak terasa kelopak penuh dengan linangan airmata, lalu ibuku menjawab “baik-baik ia nak … jalankan itu dengan sungguh-sungguh” isak tangis kecil ibuku mungkin terasa dalam hatiku. Saat itulah hatiku mantap untuk membuat langkah baru dalam hidupku. Di saat itu pulalah perjuangan hidupku akan dimulai. Aku dengan segenap keberanianku, dengan segala kekuatan yang entah darimana datangnya mencoba membuat episode baru dalam hidupku. Episode hidup yang harus kujalani sendiri untuk menggapai cintaNya, untuk mulai mengenalNya, meraih ridho dan jannahNya.

Alhamdulillah, KAMIS 25 JANUARI 2007 di masjid AR-RAHMAN. Kutemukan fitrahku, kutemukan imanku yang sesungguhnya, kutemukan cintaNya … Allohukariim. Asyhadu allaa illaha illallah wa asyhadu ana muhamadarrasullulah … aku bersaksi tiada tuhan selain Alloh dan aku bersaksi Muhammad adalah utusan Alloh … Meski hujan badai, onak dan duri, ada dihadapanku insyaalloh Kan ku genggam hidayah ini erat-erat selamanya … “ISHADU BI ANA MUSLIMIN”.

Tentang Rizca Fitria

I'm a student of Educatinal Technology , The State Universty of Jakarta | i was born in Jakarta , January 29th 1991 | The Creator , Owner , and tutor of Gubuk Belajar | really love education
Pos ini dipublikasikan di Islam, Random. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s