I hate to say ‘Goodbye’, i prefer to say ‘See you’.

Catatan ini aku tulis pada malam setelah yudisium berlangsung. Alhamdulillah aku dan teman-teman dinyatakan lulus dan resmi menyandang gelar Sarjana Pendidikan. Di tengah kebahagian yang aku rasakan, tiba-tiba terselip rasa sedih karena akan berpisah setelah 4 tahun lebih berjuang bersama.

_______________________________________________________________

“Bukankah hati kita telah lama menyatu

dalam tali kisah persahabatan illahi

pegang erat tangan kita terakhir kalinya

hapus air mata meski kita kan berpisah

Selamat jalan teman, tetaplah berjuang

Semoga kita bertemu kembali

Kenanglah masa indah kita, sebiru hari ini”

Potongan syair dari lagu ‘Sebiru Hari Ini’ yang dilantunkan oleh Edcoustic samar-samar terdengar dari pengeras suara telepon genggamku. Timbul tenggelam di tengah irama yang diciptakan bulir-bulir air hujan yang jatuh dari langit begitu kerasnya. Akan tetapi indera pendengaranku begitu sensitif sekali hingga dapat menangkap gelombang audiosonik dalam frekuensi yang rendah itu dengan jelasnya. Ah, atau mungkin indera kita akan menjadi sangat peka terhadap stimulus-stimulus yang berhubungan dengan hati?

Entahlah, aku tak tahu pasti soal itu. Belum pernah rasanya mendengar kajian tentang itu. Yang ku tahu, potongan syair itu rasanya sangat tepat menggambarkan suasana hatiku saat ini. Suasana hati yang diselimuti oleh perasaan takut menghadapi perpisahan. Walau, sebaik apapun aku memahami bahwa Allah menakdirkan sebuah perpisahan pada akhir sebuah pertemuan. Tetapi tetap saja aku sulit sekali berdamai dengan hati setiap kali harus berjumpa dengannya.

Tanpa perintah dari si empunya, mulutku pun terhanyut ikut melantunkan syair indah itu. Dan seketika itu juga simpul-simpul memori kembali terhubung dalam ingatanku. Bagai kepingan puzzle yang mulai tersusun, hingga terbentuk suatu sketsa yang utuh. Sketsa yang memvisualisasikan kisahku dengan mereka. Perlahan sketsa itu berubah menjadi gambar hidup. Layaknya pemutaran sebuah video dokumenter dalam sebuah gedung pertunjukan. Namun bedanya, hanya ada aku di sini menikmati sebuah lakon yang ku perankan sendiri. Ratusan kursi lainnya dibiarkan berbaris rapi tanpa penghuni. Di tengah pertunjukkan, aku merasa pipiku basah dan panas. Ternyata bulir-bulir air mata terurai begitu derasnya, mengalir di pipi dan tak kuasa melawan gaya gravitasi bumi, akhirnya ia jatuh mengenai jemariku yang sejak tadi menari-nari di atas tuts papan ketik.

Beberapa organ dalam tubuhku merespon begitu hebatnya, membuat detak jantung dan irama nafas menjadi tak beraturan. Dadaku terasa sesak, bukan karena adegan-adegan yang menyedihkan dalam video itu. Bukan! Justru karena video itu begitu apik menceritakan kembali kenangan indahku bersama mereka.

Empat tahun enam bulan, bukan waktu yang singkat. Kami pun berproses untuk menyatukan helaian demi helaian benang hingga akhirnya terbentuk sebuah anyaman tali yang kokoh. Pada akhirnya satu persatu helai benang itu harus memisahkan diri. Berpencar untuk membentuk koloni baru. Walau secara fisik kami tidak lagi satu, namun aku yakin hati kami telah terhimpun dalam sebuah wadah, persabahatan illahi.

See you! Kita akan berjumpa (lagi) pada potongan hidup yang lain, insyaAllah.

Tentang Rizca Fitria

I'm a student of Educatinal Technology , The State Universty of Jakarta | i was born in Jakarta , January 29th 1991 | The Creator , Owner , and tutor of Gubuk Belajar | really love education
Pos ini dipublikasikan di Random. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s